Pemandangan udara konseptual Bandara Internasional Pei Pei yang menyatu dengan hutan hujan dan Teluk Mentawai di Siberut

Bandara Internasional Pei Pei

Liburan seharusnya tidak berakhir di pintu terminal.

Terminal destinasi kelas satu yang diusulkan untuk Siberut: akrab dalam skala, setara Changi dalam perhatian, berakar di Mentawai, dan dirancang untuk masa depan yang mengutamakan SAF.

Ilustrasi gambaran distrik gerbang Pei Pei dari strategi terminal destinasi

Gambaran bandara

Distrik gerbang yang dibentuk oleh hutan hujan, landasan, dan teluk.

Strategi terminal destinasi menempatkan Pei Pei lebih dari sekadar bangunan transportasi. Distrik gerbang yang diusulkan menyatukan terminal, lapangan terbang, keramahan, kebugaran, dan lanskap sebagai satu pengalaman kedatangan dan keberangkatan yang terancang.

Siberutlokasi pulau
Akrabskala regional
SAF-firstjalur operasi
Buka strategi terminal destinasi

Visi konsep · bergantung pada persetujuan desain, teknis, lingkungan, komersial, dan regulator

Pantai tropis dan terumbu karang yang luas di Kepulauan Mentawai

Efek Micro-Changi

Mengubah waktu tunggu menjadi pengalaman pulau yang terakhir.

Terminal yang diusulkan dibayangkan sebagai destinasi tersendiri: ringkas, intuitif, serta kaya akan kuliner, musik, lanskap, dan keramahan. Konsep ini mengambil standar perhatian Changi, bukan skala atau arsitekturnya.

  • Perjalanan penumpang yang tenang dan mudah dipahami
  • Kuliner khas bandara dan ritel lokal
  • Distrik gerbang yang memperpanjang pengalaman liburan
Konsep atrium terminal Pei Pei dengan tanaman tropis, air mengalir, dan pod lounge kayu

Anti-terminal

Atrium hutan hujan menggantikan barisan kursi.

Ruang tengah yang ditanami, kayu hangat, air yang mengalir, dan pod lounge teduh menggantikan ruang tunggu anonim. Pemandangan terbuka ke teluk, landasan, dan hutan sehingga destinasi tetap terasa hingga waktu naik pesawat.

  • Arsitektur biofilik yang tanggap iklim
  • Cahaya alami, keteduhan, dan ventilasi
  • Pod lounge untuk beristirahat dan berbincang
Konsep Hangar Hall dengan koki lokal, sangrai kopi, dan pemandangan ke landasan

Keramahan sebagai infrastruktur

Hangar Hall, Horizon Lounge, dan perpisahan akustik.

Strategi terminal memadukan aula kuliner pulau, lounge premium menghadap landasan, lanskap suara lokal, dan fasilitas pemulihan. Tujuannya bukan menambah luas ritel, melainkan menciptakan keberangkatan yang membuat orang memilih datang lebih awal.

  • Teater kuliner dan kopi Hangar Hall
  • Horizon Lounge terbuka
  • Musik, kebugaran, dan ruang penyegaran
Konsep apron Pei Pei dengan penanganan SAF, kanopi surya, dan kendaraan darat listrik

Mengutamakan SAF sejak awal

Membangun jalur rendah karbon ke dalam bandara, bukan di sekelilingnya.

Visi bandara menyediakan sistem, kemitraan, dan disiplin operasi yang diperlukan untuk memprioritaskan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan ketika operasi jet berkembang, sambil mengelektrifikasi peralatan darat yang praktis dan mengurangi kebutuhan energi terminal.

  • Jalur penyimpanan, penanganan, dan pengadaan yang siap SAF
  • Kendaraan sisi udara listrik dan daya darat tetap
  • Tenaga surya, pendinginan efisien, dan sistem air tangguh
Konsep pemandangan udara Bandara Pei Pei yang menyatu dengan hutan hujan dan teluk

Teknologi yang tak terasa

Perjalanan kelas satu tanpa friksi bandara besar.

Identitas digital yang sederhana, koordinasi bagasi yang tidak mencolok, pemberitahuan yang jelas, dan bantuan manusia ditujukan untuk membuat terminal kecil terasa mudah. Teknologi seharusnya menyatu dengan pengalaman, bukan menjadi pengalaman itu sendiri.

  • Pemrosesan yang cepat dan aksesibel
  • Koordinasi bagasi yang mulus dari vila ke gerbang
  • Layanan manusia ketika benar-benar dibutuhkan